Oleh: Yudi Wahyudin | 13.Mei.2008

PILKADA DAN KRITERIA PEMIMPIN DAERAH

by :  YUDI WAHYUDIN

Artikel pada Kolom Opini Harian Umum Suara Karya, Edisi Selasa, 16 Agustus 2005.

see : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=118392

mail to : yudi_iasd@yahoo.com

 

Rintihan pilu yang datang dari setiap anggota keluarga korban gejolak sosial itu masih terdengar pilu dan menambah kesedihan dan kepedihan ibu pertiwi. Terbayang betapa segenap penderitaan demikian beruntun negeri. Gejolak tersebut telah menelan banyak korban. Padahal, rakyat ibu pertiwi biasanya dikenal sebagai rakyat yang ramah-tamah, aman-tentram, tertib dan sabar, serta selalu mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi pada masa itu dan beberapa peristiwa yang menjurus anarkis lainnya dewasa ini sungguh di luar nalar kepribadian bangsa. Rakyat Indonesia biasanya selalu menempatkan norma-norma keagamaan dan kebudayaan sebagai pembentuk sikap dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Sungguh disayangkan, ketika Pancasila dijadikan ideologi negara dengan nilai-nilai Ketuhanan di tempatkan pada urutan pertama dan utama dari kelima silanya, akan tetapi para pewarisnya (rakyat Indonesia dewasa ini) seperti tidak perduli dengan nilai-nilai tersebut.

Ironinya, ada juga yang menggunakan isu SARA sebagai salah satu pemicu efektif untuk memprovokasi dan menimbulkan tragedi sosial di masa lalu bahkan mungkin dewasa ini masih tetap digunakan.

Sebuah ironi, ketika kita coba cermati apa yang terjadi sekarang ini. Para ‘pini sepuh’ bangsa (elit partai dan politik) cenderung asyik dengan egonya masing-masing dan saling sikut, sehingga lupa memikirkan dampak turunan yang sangat mungkin timbul akibat sikap dan perilaku mereka yang cenderung kekanak-kanakan. Padahal, Indonesia sekarang ini sedang dalam kondisi transisi-disintegrasi yang jelas-jelas perlu penataan dan perekatan kembali.

Dan untuk meluruskannya kembali dibutuhkan (i) kemauan dan jiwa berkorban, (ii) membuang jauh-jauh ego pribadi, (iii) selalu berupaya menumbuhkembangkan sikap berjiwa besar dan rendah hati serta (iv) selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.

Menyikapi segenap peristiwa tragedi sosial dan anarki yang kerap terjadi serta beberapa peristiwa politik kekanakan, maka sudah seyogianya kita berkaca pada amanat para pinisepuh bangsa terdahulu. Pendiri negara telah menorehkan Pancasila sebagai pegangan negara, maka tidaklah salah jika kita coba untuk merefleksi peristiwa dan makna torehan tersebut. Kelima sila Pancasila telah sedemikian dirancang kokoh sebagai pondasi nilai kehidupan berbangsa dan bernegara, sungguh apa yang terjadi sudah jauh dari nilai-nilai yang tersirat dan tersurat dalam lima sila Pancasila.

Oleh karena itu, sebagai bagian integral dari pewaris tongkat estafet kepemimpinan bangsa, penerima amanat kemerdekaan dan revolusi serta penerus cita-cita perjuangan bangsa, maka sudah sepantasnya kita untuk segera secara bersama menghayati dan mengamalkan nilai-nilai ideologi negara tersebut. Secara bersama kita harus segera saling rangkul dan bahu membahu dalam menciptakan suasana yang kondusif serta membina kesinergian untuk menerima dan menjalankan amanat pemimpin bangsa terdahulu yang telah menorehkan sejarah untuk mendirikan suatu negara yang merdeka, berdaulat dan berideologi.

Tahun 2005 ini merupakan tahun-tahun tersulit bagi para anak negeri. Ragam musibah melanda Indonesia secara beruntun, mulai dari bencana alam sampai bencana yang diakibatkan oleh ego manusia sendiri. Setelah sukses berdemokrasi dalam menentukan para elit politik dan pemimpin bangsa di tahun 2004 lalu, sekarang para elit partai juga sedang bertarung mendapati tampuk pemegang amanat tertinggi masing-masing partai yang diwarnai beragam persoalan yang seolah tidak kunjung reda menorehkan rasa suka dan tidak suka. Di samping itu dan tidak kalah pentingnya adalah bahwa tahun 2005 ini genap sudah 60 tahun Pancasila menjadi ideologi negara.

Tahun ini juga merupakan tahun permulaan pesta demokrasi rakyat di daerah untuk menentukan calon pemimpin daerah.

Pemilihan kepala daerah (pilkada) merupakan momen penting kiranya bagi kita semua agar dapat menghilangkan beban dan rasa lelah serta bangkit kembali menjadi bangsa yang besar. Oleh karena itu tidaklah kalah pentingnya dengan beragam persoalan yang ada saat ini serta perlu kiranya dipikirkan secara matang, bagaimana caranya membidik calon pemimpin daerah dalam pilkada 2005 ini.

Pemimpin yang dibidik diharapkan akan mampu membimbing dan memberikan teladan serta berupaya untuk membangun kembali tatanan masyarakat yang ramah-tamah, aman-tentram, tertib-sabar, serta selalu mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan bangsa sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Dalam hal ini penulis menawarkan bahan renungan dan wacana tentang kriteria peminpin seperti apa yang seharusnya dipilih dalam pilkada 2005 ini?

Pertama, pemimpin daerah seharusnya mampu dan selalu berusaha untuk segera tanggap terhadap berbagai masalah ekonomi, sosial, politik, budaya serta pertahanan dan keamanan. Hal ini dimaksudkan agar seorang pemimpin dapat mengetahui secara dini segenap peristiwa yang terjadi agar pemahaman dan pengetahuannya terhadap peristiwa tersebut masih didasarkan pada situasi dan kondisi yang asli. Dan pada gilirannya, cara pandang kasus per kasus yang dilihat dan dianalisis tidak terimbas oleh pikiran negatif yang cenderung bias, tidak proporsional dan terkesan subjektif.

Kedua, pemimpin daerah seharusnya mampu dan selalu berusaha untuk dapat berkreativitas dalam menemukan alternatif pemecahan dari situasi dan kondisi yang ada. Hal ini dimaksudkan agar seorang pemimpin senantiasa dapat menumbuhkembangkan sifat perduli dan berjiwa nasionalisme, sehingga sudut pandangnya dalam melihat segenap kejadian yang ada akan selalu bersifat utuh keseluruhan dan merupakan representasi bangsa Indonesia. Dengan demikian, pada gilirannya pemimpin dimaksud mampu membangun opini dan menciptakan alternatif pemecahan dengan didasari oleh semangat patriotisme yang selalu mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi maupun golongan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: