Oleh: Yudi Wahyudin | 13.Mei.2008

MERENCANAKAN PEMBANGUNAN SECARA ASPIRATIF

by :  YUDI WAHYUDIN

Artikel pada Kolom Opini Harian Umum Suara Karya, Edisi Senin, 30 Mei 2005.

see : http://www.yipd.or.id/berita_agenda/index.php?act=detail&p_id=1653&p_cat=

mail to : yudi_iasd@yahoo.com

 

Perencanaan adalah langkah penting yang harus dilaksanakan dalam suatu proses pembangunan. Secara sederhana, perencanaan pembangunan didefinisikan sebagai target-target kuantitatif yang mencakup semua aspek utama pembangunan yang ingin dicapai dalam suatu periode tertentu. Fungsi penting dalam perencanaan pembangunan adalah untuk memengaruhi, memberikan arah dan dalam beberapa hal diharapkan mampu mengendalikan perubahan-perubahan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat pada kurun waktu tertentu.

Seiring dengan bergulirnya otonomi daerah dan semangat reformasi, perencanaan pembangunan yang baik seyogianya beranjak dari realitas sosial, ekonomi dan budaya masyarakat, serta harus aspiratif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dalam kaitan ini, suatu proses perencanaan pembangunan hendaknya disusun dengan melibatkan masyarakat yang terkait (stakeholders). Hal ini sangat penting dilakukan agar segenap program yang berhasil dirancang merupakan buah pemikiran dari para stakeholders yang pada gilirannya akan menambah semangat kebersamaan dalam kerangka upaya pengejewantahannya.

Perencanaan pembangunan yang disusun berdasarkan pendekatan di atas memerlukan suatu wadah atau media yang diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menyusun suatu perencanaan pembangunan yang bersifat aspiratif dan bottom up planning. Para perencana di mana pun tentunya tidak asing lagi dengan istilah bottom up planning (perencanaan dari bawah). Ini merupakan salah satu pendekatan perencanaan yang disusun dan digali secara partisipatif dari bawah (grass root). Sebagai sebuah pendekatan perencanaan, tentunya sangat memerlukan suatu metode pelaksanaan yang dapat dilakukan secara cepat, tepat dan sesuai dengan maksud dan tujuan dilaksanakan kegiatan tersebut.  

Pengalaman DKI Jakarta

Provinsi DKI Jakarta sebagai pusat atau jantung dan acuan nyata bagi daerah lain untuk secara signifikan memacu perkembangan wilayahnya, merupakan wilayah yang secara talenta dan berkesinambungan menerapkan proses penggalian aspirasi pembangunan dari bawah (bottom up planning and development) melalui beberapa kegiatan, di antaranya melalui forum pengkajian perencanaan. Forum ini dibagi dalam tiga tingkatan (level forum), yaitu forum kelurahan, forum kota/kabupaten dan forum provinsi.

Dalam hal ini, pelibatan peranserta masyarakat dalam forum dimulai dari tingkat kelurahan, yaitu yang diaplikasikan dalam bentuk forum kelurahan. Pada level selanjutnya (forum kota/ kabupaten), peran serta masyarakat semakin mengerucut, peserta forum berasal dari berbagai elemen, termasuk swasta dan instansi pemerintahan. Dengan demikian, terindikasi bahwa semakin rendah tingkatan (level administrasi pemerintahan) forum, keterlibatan masyarakat semakin besar dan intensif. Adapun di tingkat kecamatan bentuknya bukan forum pengkajian, melainkan dilakukan dalam bentuk konsolidasi teknis oleh aparat untuk mensinkronkan usulan-usulan masyarakat hasil forum tingkat kelurahan.

Dari hasil forum kelurahan diharapkan dapat dihasilkan berbagai usulan program atau kegiatan yang sesuai dengan aspirasi riil dari peserta forum. Rumusan forum kelurahan ini kemudian didistribusikan dan disosialisasikan kepada segenap unsur aparat, baik di tingkat kecamatan maupun kota/kabupaten. Segenap unsur aparat tersebut diharapkan dapat mengakomodasi segenap usulan masyarakat dari forum kelurahan menjadi usulan program atau kegiatan pada masing-masing unit disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsinya. Selanjutnya, setelah ditelaah oleh masing-masing unit, maka hasilnya dibawa dan dipaparkan atau disosialisasikan pada forum pengkajian perencanaan tingkat kota/kabupaten.

Pada forum tingkat kota/kabupaten ini, segenap usulan yang dipaparkan masing-masing unit kemudian dibahas secara bersama untuk menghasilkan rumusan hasil forum sesuai bidang atau kelompok sektor (core sector), dan hasilnya akan menjadi rumusan usulan baku dari pemerintah kota/kabupaten yang akan dibawa untuk disosialisasikan pada level forum yang lebih besar dan makro, yaitu pada forum pengkajian perencanaan tingkat provinsi. Hasil yang diharapkan dari forum provinsi ini juga tidak berbeda jauh dengan harapan hasil pelaksanaan forum-forum sebelumnya, yaitu untuk menghasilkan rumusan usulan program/ kegiatan berdasarkan prioritas pembangunan masing-masing sektor, tentunya pada level provinsi.  

Pengalaman Kepulauan Seribu

Kepulauan Seribu sebagai salah satu daerah kabupaten yang baru diresmikan tahun 2001 mencoba untuk mengimbangi proses perencanaan pembangunan sesuai dengan prosedur dan performa DKI Jakarta. Dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu melalui Badan Perencanaan Kabupaten (Bapekab)-nya mencoba untuk menginisiasi dan melaksanakan kegiatan forum pengkajian perencanaan tingkat kelurahan.

Sebagai wilayah yang administrasi pemerintahannya masih baru, maka penguasaan stakeholders yang harus dilibatkan dalam kegiatan ini pun benar-benar harus diidentifikasi secara hati-hati, sehingga diharapkan mampu merepresentasikan segenap elemen masyarakat yang ada pada setiap kelurahan. Oleh karena itu, Bapekab Kep Seribu telah bekerja keras untuk mengidentifikasinya. Dan hasilnya, peserta forum kelurahan mampu dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat masing-masing kelurahan, di antaranya berasal unsur dewan kelurahan (Dekel), lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM), RT/ RW, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, pendidik, PKK, dan sebagainya.

Metode pelaksanaan yang digunakan dalam kegiatan forum pengkajian perencanaan tingkat kelurahan ini dilakukan secara partisipatif dengan teknik meta-plan. Metode ini dinilai cukup tepat dan efektif untuk dapat menangkap keseluruhan aspirasi dari peserta forum kelurahan. Di samping itu, metode ini juga dinilai sangat tepat digunakan dalam rangka mengeliminir kemungkinan penguasaan pembicaraan dari orang-orang vokal yang mampu berkomunikasi dengan baik. Artinya, setiap peserta forum mempunyai kesempatan yang sama untuk mengungkapkan aspirasinya secara terbuka.

Dalam hal ini, peserta sebelum dipandu untuk memberikan aspirasinya, terlebih dahulu diajak secara bersama untuk mengikuti ragam permainan (organizer) dalam rangka membuka dan belajar bersama tentang cara berpikir, berencana dan berupaya, seperti melalui permainan kerjasama tim, penumbuhan motivasi, empati, kreativitas, sinergitas dan sportivitas, cara berkomunikasi, leadership dan followership, dan sebagainya. Dan, dari hasil pengamatan terindikasi bahwa proses bottom up planning mampu terlaksana dengan baik. Hal ini dapat diindikasi dengan berhasilnya peserta forum pada setiap kelurahan masing-masing, secara mufakat dapat merumuskan beragam usulan program/kegiatan sesuai dengan core bidang/aspek, seperti bidang ekonomi, bidang sosial-budaya, bidang fisik serta bidang SDA dan lingkungan.  

Petikan Pengalaman

Apa yang dilakukan oleh DKI Jakarta dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu merupakan salah satu upaya pengimplementasian terhadap proses perencanaan pembangunan yang berbasis masyarakat (community based-development planning) atau dengan kata lain telah menerapkan proses perencanaan dari bawah (bottom up planning). Berdasarkan pengalaman DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu tersebut, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan:

Pertama, bahwa bilamana pemerintah ingin menempatkan fungsinya selaku pemberi pelayanan terhadap masyarakat (optimal services for community), maka perencanaan pembangunan dari bawah merupakan salah satu pendekatan terbaik yang seyogianya dilakukan.

Kedua, bahwa proses perencanaan dari bawah merupakan salah satu media pemerintah untuk dapat menyosialisasikan secara terfokus dan terpadu terhadap suatu proses dan implementasi pembangunan. Artinya, di sini masyarakat diajak untuk secara bersama membangun wilayahnya dan melalui forum atau media lainnya dapat disosialisasikan beragam implementasi program pembangunan (baik yang telah, sedang dan akan dilaksanakan) berdasarkan skala prioritas dan waktu, di samping juga masyarakat diajak untuk dapat memahami secara sukarela (voluntary understanding) bagaimana cara melakukan perencanaan dan proses implementasinya.

Ketiga, proses perencanaan memang memerlukan pembiayaan yang cukup besar. Selain itu, proses ini juga sangat menyita waktu serta menguras tenaga dan pemikiran, sehingga sangat memerlukan pemahaman yang komprehensif dan mendalam dari seluruh elemen masyarakat dan unsur stakeholders lainnya yang terkait dengan proses perencanaan dan implementasi pembangunan. ***


Responses

  1. Salam Kenal saya juga senang membaca tentang Perencanaan Pembangunan yang aspiratif karena negara kita ini perluh reformasih perencanaan pembangunan nasional yang benar-benar tumbu dari keberadaan bangsa sehingga saya mohon selalu koordinasi dalam hal perencanaan ini sukses selalu ( Bappeda Nabire Papua )

  2. Dear Pak Frans,

    Senang sekali mendengar dan bersilaturahim dengan saudara sebangsa dari Papua. Semoga apa yang diharapkan bapak dan juga para anak negeri tercinta Republik Indonesia ini dapat selalu terwujud, sehingga pembangunan berkelanjutan yang dilakukan di negara tercinta ini dapat benar-benar menyentuh kebutuhan riil rakyatnya dengan sebenar-benarnya.

    Negeri ini terlalu sayang untuk hanya bisa dinikmati oleh sebagian kelompok yang hanya mementingkan keperluannya tanpa perduli dengan nasib anak bangsa yang sudah jelas-jelas berhak mendapatkan penghidupan dan kehidupan yang layak.

    Salam hangat,
    Yudi Wahyudin
    08121100090


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: